Oleh: ipfsentral | 29 Juli 2009

Anehkah Anak Itu…?


aku2

Aneh…? Pendidikan itu sangat penting untuk semua orang. Tidak hanya pada usia-usia dini, tapi juga remaja, dewasa, bahkan orang tua sekalipun. Sekarang siapakah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anak. pada kali pertamanya. Tentu saja tidak lain, tidak bukan adalah orang tua anak tersebut. Nah dengan berkembangnya kemajuan teknologi dan pergeseran kebudayaan serta kesibukan orang tua, semakin hari semakin banyak kasus yang terjadi pada pada anak. Kasus-kasus tersebut dapat kita saksikan hampir setiap hari pada layar kaca kita. Mulai dari kasus kekerasan, sifat asusila ( pemerkosaan, pencurian, perkelahian) dan lain-lain.aku2

Untuk anak yang umurnya masih begitu muda, sangatlah mudah untuk mengikuti dan terpengaruh apa yang di ajarkan oleh orang-orang terdekatnya. Tinggal sekarang siapakah orang terdekat anak-anak usia dini tersebut, apakah Ibu Bapaknya, pembantunya, teman bermainnya, atau guru atau mungkin anak-anak kakak angkatan mereka. Sungguh sayang bila pada masa-masa seperti ini anak-anak kurang mendapat perhatian dan pendidikan dari keluarga terutama oleh kedua orang tuanya. Dengan kesibukan orang tuanya yang pergi pagi pulang pun telah waktu senja, serta jarangnya saling sapa walaupun ini hanya sekadar tanya kabar apa yang tadi dilakukan seharian,. nantinya akan berakibat adanya makin mahalnya kedekatan anak dengan orang tua di karenakan jarangnya interaksi komunikasi diantara mereka.

Jarak yang jauh antara orang tua terhadap anaknya akan mengakibatkan anak mencari ruang lain yang dapat mendukung dan mengapresiasi keinginan mereka.

Komunitas tersebut bisa mereka dapatkan pada lingkungan sekolahnya, teman bermainnya, ataupun komunitas yang lain. Hal inilah yang patut dikhawatiran, bukan karena mereka punya komunitas lain di luar rumah, justru itu baik untuk mereka latihan berinteraksi dan bersosial dengan sesama. Yang disayangkan bila mereka anak-anak itu, bergerak dan bertingkah yang jauh dari nilai dan etika yang baik.

Sebuah contoh sebut saja anak tersebut bernama Agung. Dia anak SD kelas 6 sebuah SD IT kota kecil di sebelah barat kota Yogyakarta. Sebenarnya anaknya baik juga ramah dan mudah bergaul. Namun, dia tinggal di komunitas bersama teman-temannya yang kehidupanya tidak ada kejelasan malah yang nampak kegiatanya mengarah ke hal-hal yang merugikan orang lain. Dia masuk komunitas sebuah gangster anak-anak dan sepertinya dia merasakan nyaman tinggal bersama teman-temanya di komunitas ini. Mungkin karena sudah kebiasaan bersama teman-temanya tersebut dia jadi sedikit arogan, senang berbuat jail dan meresahkan warga. Mencorat-coret tembok, merusak fasilitas umum, bikin kekacauan, menantang aparat, serta kelakuan-kelakuan yang merugikan masyarakat lainnya adalah kegiatan yang hampir dia kerjakan bersama gangsternya tiap hari mereka berkumpul bersama.

aku2

Aneh…?

Disisi lain untuk masalah sekolahnya, dia tertinggal sama teman-temannya. Waktu Ujian percobaan dia mendapat urutan pertama dari belakang. Les privatlah opsi selanjutnya yang orang tuanya jadikan solusinya. Akulah yang menjadi tentornya sekarang untuk menemaninya belajar. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk dapat langsung memperbaiki sikap serta nilai dan pemahaman mata pelajaran sekolahnya. Ini disebabkan mental dan sikap dia yang sudah menjadi kebiasaanya seperti malas, sukanya ngobrol, mencari alasan kalau dikasih PR, disuruh menghapal dan lain sebagainya.

Pernah suatu saat saya kasih dia kopian table hitung-hitungan untuk dihapalkan karena aku rasa hitunganya masih lemah. Suatu ketika pada pertemuan berikutnya aku berharap sudah ada perubahan yang terjadi padanya. Akan tetapi, apa yang terjadi? “ hilang mas table perhitunganya, ga tahu keselip dimana” dengan nada yang lugu serasa tak berdosa, Padahal sebelumnya aku sudah mewanti-wanti jangan sampai lupa apalagi hilang. Dan dari sikapnya yang santai aku menangkap suatu tanda bahwa dia tak perlu repot-repot belajar untuk sukses mengikuti ujian nasional. Seperti yang dia dengung-dengunkan padaku selama ini bahwa dia berniat minta jawaban sama teman-teman sekolahnya.

Segala kode dia persiapkan mulai dari gerakan jari, gerakan tangan, bahkan gerakan badan, seperti orang olah raga gerakan leher, seperti anggukan, gelengan, putaran kepala dan masih banyak kode-kode cadangan lain yang dia persiapkan. Tugas Ini jadi susah karena dia tidak ada motivasi belajarnya, dan tentunya ini tugas beratku yang harus sabar membimbing dalam membersamainya.

aku2

Nah, dari sikap seperti yang Agung tunjukkan ini, bukannya mustahil untuk mengubah kebiasaan yang telah ada. Akan tetapi, hal ini akan menjadi sebuah beban yang berat serta membutuhkan waktu lama apa lagi dia tetap bergabung sama teman-teman gangsternya. Sebenarnya ini tak perlu terjadi bila sejak awal dia mendapat perhatian dan kasih saying yang cukup dari orang tuanya. Nah sekarang setelah sudah terlanjur semuanya terjadi orang tuanya baru sadar akan betapa susahnya mengarahkan dan menasehatinya kembali.

Dari contoh kasus di atas maka bagaimana mungkin negara ini akan terbina generasi yang tangguh dan mampu bersaing dengan bangsa dan negara lain,bila dari usia dini anak-anaknya kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Nah, apakah aneh bila ada anak-anak seperti Agung? Siapakah yang salah. Renungkanlah!!!

written by Juli Hartowo


Responses

  1. Ya…itulah, sungguh realita begitu banyk dimasyarakat
    Smg kita smua bisa mendidik penerus kita nantinya dengan baik…Amiin.

    • Amiin…benar ni sodara, mari kita ubah generasi terbaik masa depan dengan mendidik anak-anak sedari kecil dengan Baik…
      Mari bersama berjuang demi masa depan yang lebih baik…….

      • admin komen artikel sendiri….lanjutkan!

  2. Eyalah…Panji..siapa kata begitu…?
    mo ngajak Ribut neh….(astaghfirullah)..
    lah Siapa yang lebih taw tentang IlKom…ente bukan…
    Jangan menuduh yang iyaya loooooo
    itu bukan pitnah namanya….

    Inilah baru penulis…yang komentar….
    Bagus g tulisanku….ANEH……..?

  3. @mas juli : piss ah…^^V…

  4. masyaAllah…kalian kok bertengkar…
    puasa khan ga boleh marah.
    semangat…tulisannya mengingatkan akan saudara-saudara kita dibelahan bumi bagian timur….
    oh, ya jangan lupa buber ya….

  5. Bener tuh kata Indah….La tahdhob 3x…
    Panji ci…memulai bertengkar….

    Untuk indah, sebenarnya kami tidak bertengkar kok…cuma baku hamtam..hwhehe..piss dech
    oiya…maksudnya tulisanya mengingatkan akan belahan bumi bagian timur…Lah kita juga di bumi timur Bu…
    Oiya buat indah jagn lupa foto kegiatan workshopnya diurus…
    Untuk menutup kekurangan biaya, buka bersamanya nanti bolehlah indah yang mensponsorin..hwhehe, gimana Panji? setuju kan?

  6. @mb indah: kita gak lagi bertengkar kok..cuma lagi bercanda saja…iya kan mas juli?
    @mas juli: bolehlah…lho kok jadi ngobrol disini…hehe

  7. Banyak orang yang sebelum menikah lupa untuk merencanakan akan masa depan anak-anaknya. Atau kalaupun tidak lupa ada tuntutan profesi yang menguras waktunya dan pengetahuannya yang minim akan dunia anak-anak yang akan menjadi alasannya. Padahal aku yakin dalam diri setiap orang tua, mereka ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, mereka pasti ingin anak-anaknya lebih baik kehidupannya dari mereka. Hanya saja banyak dari mereka kurang mengerti akan sebenarnya kebutuhan anaknya karena menjadi orang tua memang tidaklah mudah. Kurasa kita juga akan mengalaminya nanti. Dan saat kita mengalaminya nanti semoga kita bisa mengenali kebutuhan anak kita yang sebenarnya sehingga kita tidak meninggalkan generasi-generasi yang lemah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: